Meski perkembangannya masih tersendat, bagi Shakti Agustono Rahardjo, asuransi syariah masih memiliki peluang besar untuk berkembang.
Tidak hanya karena faktor demografi berupa besarnya jumlah penduduk, proporsi umat Islam di Indonesia pun menurutnya menjanjikan bagi bisnis tersebut.
“Kalau saat ini masyarakat belum begitu peduli asuransi syariah, ya tugas kami untuk membuat mereka peduli,” kata Shakti. Kepada wartawan Republika, Muhammad Bachrul Ilmi dan pewarta foto Yogi Ardhie, direktur utama PT Asuransi Takaful Umum itu menuturkan visinya soal perkembangan asuransi syariah di Indonesia.
Bagaimana Anda melihat perkembangan asuransi syariah saat ini?
Saya kira perkembangannya pesat sekali. Perkembangan bisnis asuransi syariah yang saat ini berkembang di Indonesia, dimulai sejak awal 1990-an. Sampai saat ini berkembang dengan sangat menjanjikan. Dari sisi populasi kita tahu, jumlah penduduk Indonesia itu kelima terbesar di dunia. Selain itu, penduduk muslimnya sekitar 88 persen dari lebih dari 220 juta penduduk yang ada. Jadi secara keseluruhan Indonesia memiliki potensi pengembangan bisnis asuransi syariah cukup menjanjikan. Dari sana saya lihat bahwa potensi pengembangan bisnis asuransi syariah masih sangat besar, meskipun pasarnya belum matang. Kalaupun sudah matang, memang masih harus menggali lagi. Apalagi, sekarang ini belum banyak juga yang mengakses layanan asuransi secara nasional.
Menurut Anda, bagaimana perbandingan pangsa pasar asuransi syariah dengan pangsa asuransi konvensional?
Saya akui memang masih kecil. Baru sekitar satu persen, atau sekitar itu. Tapi menurut saya, kalau kita membandingkan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, kita perlu melihat sejarah perkembangan kedua asuransi tersebut. Di Indonesia, asuransi konvensional itu sudah melalui proses panjang. Usianya saja sudah hampir 100 tahun, bila kita mencontohkan–misalnya saja–Asuransi Bumiputera 1912. Itu kan lama sekali. Jadi usia asuransi konvensional itu sudah merambah bilangan ratusan, sementara sebagian besar lainnya pun sudah mencapai puluhan tahun. Sementara asuransi syariah kebanyakan masih baru. Kalau pun yang terhitung lama paling asuransi Takaful. Itu pun baru mencapai usia 13 tahun.
Dengan perbedaan usia dan kematangan sejarah tersebut, bagaimana caranya mendorong pengembangan asuransi syariah lebih cepat lagi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya kira tak ada jalan lain kecuali perkembangan asuransi syariah perlu didukung semua pihak. Mulai dari pelaku, konsumen, hingga pemerintah. Tanpa dukungan semua pihak, saya kira asuransi syariah cukup sulit untuk berkembang dengan pesat. Jadi, seluruh stakeholder harus memiliki komitmen dan fokus bersama untuk memajukan asuransi syariah.
Sebagai contoh yang paling gampang, lihatlah perkembangan asuransi syariah di Malaysia. Di negara tetangga ini, pelaku dan pemerintah sudah memiliki visi dan misi pengembangan asuransi syariah yang sama dan melakukannya secara bersama pula. Namun hingga kini pangsa asuransi syariah di negara itu hanya sekitar lima persenan. Padahal asuransi syariah di sana dikembangkan sejak 1983. Mengapa demikian? Saya kira hal itu terjadi karena memang populasi Malaysia tidak sebanyak Indonesia. Kalangan muslimnya juga hanya sekitar 35 persen. Meski begitu mereka berkomitmen penuh dalam pengembangan asuransi syariah.
Saya kira, meski perkembangannya seperti itu, itu jauh lebih baik. Sebab perkembangan bisnis itu perlu berjalan secara bertahap dan terencana. Karena itulah saya berharap seluruh stakeholder di Indonesia juga memiliki komitmen dalam mengembangkan asuransi syariah. Misalnya, bagaimana caranya agar pemerintah juga memberikan dukungan yang optimal terhadap pengembangan asuransi syariah di Indonesia.
Bisa Anda jelaskan secara lebih spesifik, apa yang diperlukan asuransi syariah agar dapat berkembang pesat?
Saya kira pemerintah perlu menyiapkan regulasi. Di dalamnya termasuk aturan main yang jelas, dari permodalan hingga pengembangan sumber daya. Ada juga tatanan yang mengatur permainan seperti apa yang tidak sehat.
Sementara untuk para pelaku bisnis asuransi syariah, saya kira mereka juga tidak bisa hanya meminta dukungan pemerintah. Mereka juga memiliki komitmen penuh dalam pengembangan bisnis asuransi syariah. Hal itu juga mulai dari persoalan permodalan, dukungan direksi dan seluruh pegawai. Ini sangat penting karena kerja sama yang selaras antara semua pihak di perusahaan dapat mendorong perkembangan bisnis secara signifikan. Yang juga tidak kurang pentingnya, masyarakat harus aware bahwa bisnis asuransi syariah tidak hanya semata masalah bisnis. Lebih dari itu, ini bisnis yang dilakukan untuk mengatasi persoalan bagaimana mendorong penerapan sistemm syariah yang adil dan transparan untuk kita semua. Jangan sampai asuransi syariah hanya merupakan sebuah produk thok. Bagi saya asuransi syariah itu merupakan sistem yang akan membantu banyak orang.
Berkaitan dengan permodalan, saat ini pemerintah hanya mempersyaratkan modal minimal Rp 2 miliar bagi pembukaan cabang atau divisi syariah. Bagaimana pendapat Anda?
Saya kira bagi asuransi, syariah maupun konvensional, permodalan memang penting. Tetapi tentu saja bukan satu-satunya hal yang penting. Tapi modal awal memang sesuatu yang mutlak di semua bisnis. Jadi kalau Anda ingin memulai suatu bisnis, modal awal menjadi salah satu hal yang sangat penting.
Meski demikian, untuk asuransi tidak berarti modal itu harus besar sekali. Menurut saya, dalam dunia asuransi, yang terbaik adalah bagaimana memiliki modal cukup sesuai dengan target bisnis yang ingin dicapai. Nanti kalau kurang, tinggal tambah lagi. Kenapa harus cukup dan tidak berlebih? Karena kalau kita berbisnis asuransi lalu kemudian ada modal yang tidak terpakai, dalam istilah bisnis, idle (menganggur), itu bahkan bisa merugikan perusahaan.
Yang penting, menurut saya, dalam mengawali satu bisnis asuransi, kita harus memastikan bahwa modal yang ada cukup. Persoalannya, kalau modalnya tidak cukup, itu akan mempersulit perkembangan bisnis. Seperti yang saya sering bilang, kalau modal sedikit, bisa jadi buat gaji karyawan saja habis. Belum lagi kebutuhan bisnis lainnya, seperti membeli meja, sewa ruang atau lain-lain. Karena itu saya kira modal Rp 2 miliar tidak cukup banyak untuk bisa mendorong perkembangan asuransi syariah.
Jika demikian, berapa besaran modal yang ideal bagi perusahaan dan divisi asuransi syariah?
Mengenai besaran, sebetulnya yang dirumuskan Departemen Keuangan, yakni sekitar Rp 100 miliar, saya kira sudah ideal untuk perusahaan yang sudah berjalan. Tapi bagi perusahaan baru, minimal harus ada sekitar Rp 30 miliar.
Mengapa hanya Rp 30 miliar?
Bicara moderat, perusahaan asuransi syariah yang baru berdiri setahun itu, paling top baru bisa memproduksi premi antara Rp 10-20 miliar. Itu berdasarkan sejarah Asuransi Takaful. Jadi memang kita dulu masih mengikuti peraturan yang lama dari Departemen Keuangan. Berdasarkan peraturan tersebut, modal minimal perusahaan asuransi syariah umum cukup sebesar Rp 2 miliar, sementara untuk asuransi jiwa syariah hanya Rp 3 miliar. Tetapi harus disadari, itu kan untuk tahun 2000.
Kalau dibawa ke standar saat ini, ya, kalikan saja lima kalinya. katakan saja, Rp 10 miliar dan Rp 15 miliar untuk asuransi jiwa. Meski begitu, dengan pentingnya kondisi pengembangan bisnis asuransi syariah, saya kira angka tadi perlu dikalikan dua kali, sehingga menjadi Rp 20 miliar untuk general dan Rp 30 miliar untuk life.
Kalau sekarang, untuk membangun divisi syariah hanya disyaratkan Rp 2 miliar. Itu kekecilan. Saya kira, baik divisi maupun perusahaan asuransi syariah perlu jumlah yang sama. Kita bicara masalah usaha dan bukan bentuk divisi atau perusahaan. Itu kalau memang mau serius mengembangkan bisnis asuransi syariah. Untuk itu perlu modal yang cukup. Bagi saya, tidaklah pas bila kita menangani bisnis yang besar dengan dengan modal yang besarnya tidak mencukupi. Sudah seharusnya modal pun seimbang dengan bisnis yang ditangani.
Itu artinya Anda mendorong pemerintah untuk meningkatkan modal asuransi syariah?
Tentu saja, saya mendorong ke arah itu. Saya juga mengharapkan pemerintah mau mendorong peningkatan modal asuransi syariah. Paling tidak, antara Rp 20 – Rp 30 miliar.
Bagaimana dengan prospek asuransi kerugian syariah di Indonesia saat ini?
Prospeknya, kalau kita baca saat ini, yang maju hanya sektor keuangan. Sedangkan sektor riil sendiri tidak bertumbuh dan berkembang. Bisa dikatakan, sektor riil saat ini tidak mengikuti perkembangan. Bahkan berdasarkan data dua bulan lalu, pengangguran malah bertambah sekitar 40 juta orang. Kemudian, lihat juga harga barang-barang. Belum lagi minyak yang terus naik. Juga minyak goreng. Padahal sebagai negara produsen crude palm oil (CPO) yang besar, bukankah seharusnya harga minyak goreng tidak naik? Lihat juga sektor distribusi dan transportasi yang juga tidak berkembang.
Nah, dengan tidak tumbuh dan berkembang sektor riil ini, maka memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan asuransi kerugian, baik syariah maupun konvensional. Pasalnya, sektor riil dan bisnis asuransi kerugian itu sangat berkaitan. Kalau sektor riil naik, maka premi naik. Kalau banyak yang membangun pabrik, maka premi asuransi kerugian pun akan naik. Kalau distribusi naik, premi juga akan naik. Itu karena mereka membutuhkan perlindungan risiko. Karena itu, perkembangan asuransi kerugian syariah sangat bergantung pada berjalannya perkembangan sektor riil.
Lalu yang terjadi saat ini?
Pertumbuhan asuransi dari 2005 ke 2006 itu hanya tiga persen, dengan nilai pangsa pasar total Rp 20 triliun. Ini sangat berkaitan dengan tidak optimalnya pertumbuhan sektor riil. Kalau pun kemudian pertumbuhan asuransi syariah tercatat lebih tinggi dibandingkan asuransi konvensional, saya kira itu hanya karena asuransi syariah masih cukup kecil. Sekitar satu persen. Karena masih kecil, maka ruang untuk tumbuh dan berkembang masih terbuka luas.
Republika, Sabtu 27/10/2007
Related posts:
- Prospeknya Sangat Baik Asuransi Syariah Tumbuh 80% Hendi Suhendratio – detikFinance Perkembangan asuransi syariah ternyata cukup...
- Takaful Andalkan Asuransi Pendidikan Takaful Andalkan Asuransi Pendidikan Perencanaan pendidikan anak menjadi salah satu...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
