Archive for the "Blog" Category

Takaful Andalkan Asuransi Pendidikan

Posted by: fitriin Blog
16
Apr
Takaful Andalkan Asuransi Pendidikan

Perencanaan pendidikan anak menjadi salah satu hal penting dalam memastikan
buah hati dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. 

Asuransi Takaful Keluarga (ATK) pun turut dalam menawarkan asuransi pendidikan
dengan memberikan tahapan pendidikan yang akan diberikan sesuai jadwal sampai
perguruan tinggi.

Direktur Utama ATK, Agus Edi Sumanto, mengatakan dalam produk asuransi
pendidikan ATK, Fulnadi, dana tahapan pendidikan dapat dimulai sejak dari
taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. ''Bila terjadi musibah kepada
peserta asuransi, maka keluarga yang ditinggalkan akan mendapat santunan,
polis menjadi bebas premi serta tahapan pendidikan akan tetap diberikan sesuai
jadwal sampai perguruan tinggi,'' kata Agus kepada Republika, Selasa (13/4).

Agus menambahkan, perkembangan Fulnadi juga mengalami pertumbuhan yang cukup
baik dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 20 persen. Saat ini
tercatat pemegang polis Fulnadi mencapai 86.997 orang. Dalam pemasaran, dia
mengoptimalkannya melalui agen. ''Salah satu strategi untuk Fulnadi adalah
kami sering melakukan open desk di sekolah-sekolah atau pameran yang ada
kaitannya dengan pendidikan,'' ujar Agus.

Di kuartal pertama 2010, perolehan premi ATK tercatat sebesar Rp 83 miliar.
Dari perolehan tersebut mayoritas berasal dari kontribusi premi asuransi
individu dengan 57 persen, sementara dari asuransi kumpulan 43 persen.

sumber berita :
http://www.republika.co.id/berita/bisnis-syariah/berita/10/04/13/110890-
takaful-andalkan-asuransi-pendidikan.
Selasa, 13 April 2010, 15:18 WIB

JAKARTA – PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) menerapkan sistem interkoneksi pembayaran premi lanjutan di kantor pos Jabodetabek guna mengoptimalkan pelayanan premi lanjutan.

Dalam penerapan sistem tersebut, ATK bekerja sama dengan PT Pos selaku mitra yang menerima pembayaran premi ATK lanjutan dan PT Arta Jasa selaku mitra penyedia sistem teknologi informasi (TI). `’Ini mempermudah nasabah kami untuk membayar premi lanjutannya,” kata Direktur Utama ATK, Muhammad Aminuddin Ismail, Rabu, (18/4).

Dalam tiga tahun terakhir, ATK mengandalkan jasa kolektor untuk menghimpun premi lanjutan nasabah. Namun, pola itu dinilai belum optimal. Terutama bagi nasabah dengan jarak tempat tinggal cukup jauh dari kantor cabang ATK sehingga menyebabkan cukup banyak hilangnya potensi pembayaran premi lanjutan. `’Contohnya, kalau ada nasabah yang mau bayar premi lanjutan sekitar Rp 200-300 ribu, tapi tempat tinggal nasabah cukup jauh sekitar 100 kilometer sehingga kolektor tidak bisa datang ke tempat nasabah,” katanya.

Menurut Aminuddin, tingginya penghimpunan premi lanjutan menunjukkan tingkat loyalitas nasabah terhadap ATK. Karena itu, upaya optimalisasi penghimpunan premi lanjutan sangat penting dilakukan. `’Saya pikir tingkat penghimpunan premi lanjutan itu menggambarkan tingkat loyalitas nasabah terhadap produk-produk takaful,” katanya.

Hingga akhir tahun, ATK baru menerapkan sistem pembayaran premi lanjutan di kantor pos Jabodetabek. Sedangkan, tahun depan, ATK berencana menerapkan sistem pembayaran tersebut di kantor pos di pulau Jawa. `’Jadi target jangka panjang kita seluruh Indonesia,” katanya.

Menurut Aminuddin, kerja sama pembayaran tersebut terkait dengan misi ATK agar layanan asuransi syariah dapat diakses banyak masyarakat. Layanan tersebut diharapkan tidak hanya diakses msyarakat di perkotaan, tapi juga di pedesaan. `’Ini memang sesuai dengan misi Takaful agar layanan asuransi syariah sampai ke pelosok. Tidak hanya di kota tapi sampai ke desa-desa,” katanya.

Hingga Maret 2007, aset ATK meningkat menjadi Rp 353,116 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu, Rp 269,892 miliar. Sedangkan, penghimpunan premi per Maret lalu meningkat menjadi Rp 47,388 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu, Rp 31,403 miliar. Pembayaran klaim per Maret lalu meningkat menjadi Rp 19,700 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 17,478 miliar.

Perolehan laba ATK per Maret lalu meningkat menjadi Rp 1,335 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,323 miliar. Ekuitas ATK per Maret lalu meningkat menjadi Rp 75,910 miiar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 66,157 miliar.

Direktur Utama Syarikat Takaful Indonesia Wan Zamri Wan Ismail, sebelumnya menyebutkan ATK berencana membuka dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) syariah awal tahun depan. Sebabnya, pasar dana pensiun syariah di Indonesia dinilai memiliki potensi pengembangan bisnis cukup besar.

Menurut Wan Zamri, persiapan pembukaan DPLK syariah oleh ATK telah dimulai sejak akhir tahun lalu. Hingga kini, ATK telah mempersiapkan sejumlah SDM-nya yang akan mengelola DPLK syariah tersebut. Selain itu, ATK juga telah mempersiapkan dokumen terkait pembukaan DPLK syariah tersebut.

Wan Zamri menyebutkan, ATK berencana mengajukan permohonan rekomendasi syariah kepada Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) akhir tahun ini. Selanjutnya, ATK akan mengajukan permohonan izin pembukaan DPLK syariahnya kepada Departemen Keuangan (Depkeu).n aru

Republika.
Kamis, 19 April 2007



Hendi Suhendratio – detikFinance
Perkembangan asuransi syariah ternyata cukup menjanjikan. Tahun 2005 ini saja, asuransi syariah diperkirakan tumbuh hingga 80 persen. Angka tersebut berarti lebih baik dari angka asuransi konvensional yang hanya tumbuh 15 persen. “Pertumbuhannya masih tinggi. Tahun ini saja mencapai 80 persen,” kata Ketua Islamic Insurance Society (IIS) Muhaimin Iqbal usai pembukaan kursus internasional Islamic Insurance and Takaful di Pusdiklat Depkeu, Jalan Purnawarman 99, Jakarta, Senin (21/11/2005). Iqbal mengakui, nilai premi asuransi syariah saat ini masih sangat rendah. Namun pertumbuhan dan perkembangannya masih akan tinggi dan bahkan diprediksi tahun depan dapat mencapai 80-100 persen.

“Pertumbuhannya tahun depan minimal sama dengan tahun sekarang. Mungkin tahun depan bisa mencapai 80-100 persen,” ungkap Iqbal. Premi yang dikumpulkan oleh asuransi syariah umumnya sebagian besar ditanamkan di bank syariah dan reksa dana syariah. Namun penyalurannya, menurut Iqbal, harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Mengenai persaingan asuransi syariah dan konvensional, diakui Iqbal memang ada, namun jumlahnya sangat tidak signifikan.

Di Indonesia, perkembangan asuransi syariah dimulai tahun 1994 yang dipelopori oleh Takaful Indonesia yang menjadi dasar perkembangan asuransi syariah Indonesia. Saat ini terdapat 3 jenis asuransi syariah, yakni Asuransi Keluarga Takaful, Asuransi Umum Takaful, dan Asuransi Mubarokah. RI Jadi Kiblat Ekonomi SyariahIqbal menambahkan, Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi kiblat ekonomi syariah. Diakui, saat ini di dunia memang belum ada arahan atau kiblat untuk kegiatan ekonomi syariah. Menurut Iqbal, Indonesia bisa saja menjadi kiblat ekonomi syariah karena didukung jumlah penduduk muslim yang terbesar di dunia, dan juga dianggap memiliki laboratorium alam untuk kegiatan ekonomi syariah. Selain itu Indonesia juga didukung oleh struktur ekonomi yang kuat yang ditopang melalui UMKM yang jumlahnya cukup banyak sekitar 42,5 juta UMKM. Menurut Iqbal, potensi-potensi ini dapat dikembangkan untuk menjadi kiblat kegiatan ekonomi syariah

Meski perkembangannya masih tersendat, bagi Shakti Agustono Rahardjo, asuransi syariah masih memiliki peluang besar untuk berkembang.

Tidak hanya karena faktor demografi berupa besarnya jumlah penduduk, proporsi umat Islam di Indonesia pun menurutnya menjanjikan bagi bisnis tersebut.
“Kalau saat ini masyarakat belum begitu peduli asuransi syariah, ya tugas kami untuk membuat mereka peduli,” kata Shakti. Kepada wartawan Republika, Muhammad Bachrul Ilmi dan pewarta foto Yogi Ardhie, direktur utama PT Asuransi Takaful Umum itu menuturkan visinya soal perkembangan asuransi syariah di Indonesia.
Bagaimana Anda melihat perkembangan asuransi syariah saat ini?
Saya kira perkembangannya pesat sekali. Perkembangan bisnis asuransi syariah yang saat ini berkembang di Indonesia, dimulai sejak awal 1990-an. Sampai saat ini berkembang dengan sangat menjanjikan. Dari sisi populasi kita tahu, jumlah penduduk Indonesia itu kelima terbesar di dunia. Selain itu, penduduk muslimnya sekitar 88 persen dari lebih dari 220 juta penduduk yang ada. Jadi secara keseluruhan Indonesia memiliki potensi pengembangan bisnis asuransi syariah cukup menjanjikan. Dari sana saya lihat bahwa potensi pengembangan bisnis asuransi syariah masih sangat besar, meskipun pasarnya belum matang. Kalaupun sudah matang, memang masih harus menggali lagi. Apalagi, sekarang ini belum banyak juga yang mengakses layanan asuransi secara nasional.
Menurut Anda, bagaimana perbandingan pangsa pasar asuransi syariah dengan pangsa asuransi konvensional?
Saya akui memang masih kecil. Baru sekitar satu persen, atau sekitar itu. Tapi menurut saya, kalau kita membandingkan asuransi syariah dengan asuransi konvensional, kita perlu melihat sejarah perkembangan kedua asuransi tersebut. Di Indonesia, asuransi konvensional itu sudah melalui proses panjang. Usianya saja sudah hampir 100 tahun, bila kita mencontohkan–misalnya saja–Asuransi Bumiputera 1912. Itu kan lama sekali. Jadi usia asuransi konvensional itu sudah merambah bilangan ratusan, sementara sebagian besar lainnya pun sudah mencapai puluhan tahun. Sementara asuransi syariah kebanyakan masih baru. Kalau pun yang terhitung lama paling asuransi Takaful. Itu pun baru mencapai usia 13 tahun.
Dengan perbedaan usia dan kematangan sejarah tersebut, bagaimana caranya mendorong pengembangan asuransi syariah lebih cepat lagi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya kira tak ada jalan lain kecuali perkembangan asuransi syariah perlu didukung semua pihak. Mulai dari pelaku, konsumen, hingga pemerintah. Tanpa dukungan semua pihak, saya kira asuransi syariah cukup sulit untuk berkembang dengan pesat. Jadi, seluruh stakeholder harus memiliki komitmen dan fokus bersama untuk memajukan asuransi syariah.
Sebagai contoh yang paling gampang, lihatlah perkembangan asuransi syariah di Malaysia. Di negara tetangga ini, pelaku dan pemerintah sudah memiliki visi dan misi pengembangan asuransi syariah yang sama dan melakukannya secara bersama pula. Namun hingga kini pangsa asuransi syariah di negara itu hanya sekitar lima persenan. Padahal asuransi syariah di sana dikembangkan sejak 1983. Mengapa demikian? Saya kira hal itu terjadi karena memang populasi Malaysia tidak sebanyak Indonesia. Kalangan muslimnya juga hanya sekitar 35 persen. Meski begitu mereka berkomitmen penuh dalam pengembangan asuransi syariah.
Saya kira, meski perkembangannya seperti itu, itu jauh lebih baik. Sebab perkembangan bisnis itu perlu berjalan secara bertahap dan terencana. Karena itulah saya berharap seluruh stakeholder di Indonesia juga memiliki komitmen dalam mengembangkan asuransi syariah. Misalnya, bagaimana caranya agar pemerintah juga memberikan dukungan yang optimal terhadap pengembangan asuransi syariah di Indonesia.
Bisa Anda jelaskan secara lebih spesifik, apa yang diperlukan asuransi syariah agar dapat berkembang pesat?
Saya kira pemerintah perlu menyiapkan regulasi. Di dalamnya termasuk aturan main yang jelas, dari permodalan hingga pengembangan sumber daya. Ada juga tatanan yang mengatur permainan seperti apa yang tidak sehat.
Sementara untuk para pelaku bisnis asuransi syariah, saya kira mereka juga tidak bisa hanya meminta dukungan pemerintah. Mereka juga memiliki komitmen penuh dalam pengembangan bisnis asuransi syariah. Hal itu juga mulai dari persoalan permodalan, dukungan direksi dan seluruh pegawai. Ini sangat penting karena kerja sama yang selaras antara semua pihak di perusahaan dapat mendorong perkembangan bisnis secara signifikan. Yang juga tidak kurang pentingnya, masyarakat harus aware bahwa bisnis asuransi syariah tidak hanya semata masalah bisnis. Lebih dari itu, ini bisnis yang dilakukan untuk mengatasi persoalan bagaimana mendorong penerapan sistemm syariah yang adil dan transparan untuk kita semua. Jangan sampai asuransi syariah hanya merupakan sebuah produk thok. Bagi saya asuransi syariah itu merupakan sistem yang akan membantu banyak orang.
Berkaitan dengan permodalan, saat ini pemerintah hanya mempersyaratkan modal minimal Rp 2 miliar bagi pembukaan cabang atau divisi syariah. Bagaimana pendapat Anda?
Saya kira bagi asuransi, syariah maupun konvensional, permodalan memang penting. Tetapi tentu saja bukan satu-satunya hal yang penting. Tapi modal awal memang sesuatu yang mutlak di semua bisnis. Jadi kalau Anda ingin memulai suatu bisnis, modal awal menjadi salah satu hal yang sangat penting.
Meski demikian, untuk asuransi tidak berarti modal itu harus besar sekali. Menurut saya, dalam dunia asuransi, yang terbaik adalah bagaimana memiliki modal cukup sesuai dengan target bisnis yang ingin dicapai. Nanti kalau kurang, tinggal tambah lagi. Kenapa harus cukup dan tidak berlebih? Karena kalau kita berbisnis asuransi lalu kemudian ada modal yang tidak terpakai, dalam istilah bisnis, idle (menganggur), itu bahkan bisa merugikan perusahaan.
Yang penting, menurut saya, dalam mengawali satu bisnis asuransi, kita harus memastikan bahwa modal yang ada cukup. Persoalannya, kalau modalnya tidak cukup, itu akan mempersulit perkembangan bisnis. Seperti yang saya sering bilang, kalau modal sedikit, bisa jadi buat gaji karyawan saja habis. Belum lagi kebutuhan bisnis lainnya, seperti membeli meja, sewa ruang atau lain-lain. Karena itu saya kira modal Rp 2 miliar tidak cukup banyak untuk bisa mendorong perkembangan asuransi syariah.
Jika demikian, berapa besaran modal yang ideal bagi perusahaan dan divisi asuransi syariah?
Mengenai besaran, sebetulnya yang dirumuskan Departemen Keuangan, yakni sekitar Rp 100 miliar, saya kira sudah ideal untuk perusahaan yang sudah berjalan. Tapi bagi perusahaan baru, minimal harus ada sekitar Rp 30 miliar.
Mengapa hanya Rp 30 miliar?
Bicara moderat, perusahaan asuransi syariah yang baru berdiri setahun itu, paling top baru bisa memproduksi premi antara Rp 10-20 miliar. Itu berdasarkan sejarah Asuransi Takaful. Jadi memang kita dulu masih mengikuti peraturan yang lama dari Departemen Keuangan. Berdasarkan peraturan tersebut, modal minimal perusahaan asuransi syariah umum cukup sebesar Rp 2 miliar, sementara untuk asuransi jiwa syariah hanya Rp 3 miliar. Tetapi harus disadari, itu kan untuk tahun 2000.
Kalau dibawa ke standar saat ini, ya, kalikan saja lima kalinya. katakan saja, Rp 10 miliar dan Rp 15 miliar untuk asuransi jiwa. Meski begitu, dengan pentingnya kondisi pengembangan bisnis asuransi syariah, saya kira angka tadi perlu dikalikan dua kali, sehingga menjadi Rp 20 miliar untuk general dan Rp 30 miliar untuk life.
Kalau sekarang, untuk membangun divisi syariah hanya disyaratkan Rp 2 miliar. Itu kekecilan. Saya kira, baik divisi maupun perusahaan asuransi syariah perlu jumlah yang sama. Kita bicara masalah usaha dan bukan bentuk divisi atau perusahaan. Itu kalau memang mau serius mengembangkan bisnis asuransi syariah. Untuk itu perlu modal yang cukup. Bagi saya, tidaklah pas bila kita menangani bisnis yang besar dengan dengan modal yang besarnya tidak mencukupi. Sudah seharusnya modal pun seimbang dengan bisnis yang ditangani.
Itu artinya Anda mendorong pemerintah untuk meningkatkan modal asuransi syariah?
Tentu saja, saya mendorong ke arah itu. Saya juga mengharapkan pemerintah mau mendorong peningkatan modal asuransi syariah. Paling tidak, antara Rp 20 – Rp 30 miliar.
Bagaimana dengan prospek asuransi kerugian syariah di Indonesia saat ini?
Prospeknya, kalau kita baca saat ini, yang maju hanya sektor keuangan. Sedangkan sektor riil sendiri tidak bertumbuh dan berkembang. Bisa dikatakan, sektor riil saat ini tidak mengikuti perkembangan. Bahkan berdasarkan data dua bulan lalu, pengangguran malah bertambah sekitar 40 juta orang. Kemudian, lihat juga harga barang-barang. Belum lagi minyak yang terus naik. Juga minyak goreng. Padahal sebagai negara produsen crude palm oil (CPO) yang besar, bukankah seharusnya harga minyak goreng tidak naik? Lihat juga sektor distribusi dan transportasi yang juga tidak berkembang.
Nah, dengan tidak tumbuh dan berkembang sektor riil ini, maka memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan asuransi kerugian, baik syariah maupun konvensional. Pasalnya, sektor riil dan bisnis asuransi kerugian itu sangat berkaitan. Kalau sektor riil naik, maka premi naik. Kalau banyak yang membangun pabrik, maka premi asuransi kerugian pun akan naik. Kalau distribusi naik, premi juga akan naik. Itu karena mereka membutuhkan perlindungan risiko. Karena itu, perkembangan asuransi kerugian syariah sangat bergantung pada berjalannya perkembangan sektor riil.
Lalu yang terjadi saat ini?
Pertumbuhan asuransi dari 2005 ke 2006 itu hanya tiga persen, dengan nilai pangsa pasar total Rp 20 triliun. Ini sangat berkaitan dengan tidak optimalnya pertumbuhan sektor riil. Kalau pun kemudian pertumbuhan asuransi syariah tercatat lebih tinggi dibandingkan asuransi konvensional, saya kira itu hanya karena asuransi syariah masih cukup kecil. Sekitar satu persen. Karena masih kecil, maka ruang untuk tumbuh dan berkembang masih terbuka luas.

Republika, Sabtu 27/10/2007

Memilih Asuransi Rumah

Posted by: fitriin Blog, Takaful Umum
3
Nov

Memilih Asuransi Rumah

Pilihlah Payung Perlindungan yang Sesuai Keinginan
posted by kontan on 09/29/07
PRODUK asuransi rumah fungsinya tak ubahnya seperti payung bagi penghuninya. Payung ini berfungsi melindungi harta benda penghuni agar tak rugi pada saat musibah datang. Namun, tak sedikit payung yang tak sanggup melindungi penghuninya.

Agar penghuni terbebas dari banyak bencana meskipun telah sedia payung, ada baiknya Anda teliti dulu sebelum menentukan pilihan asuransi rumah. Apalagi, produk asuransi rumah saat ini jumlahnya bejibun dan sangat bervariasi.
Memilih produk asuransi rumah memang butuh trik tersendiri. Sebelum memilih, ada baiknya orang mengenal lingkungan rumah di sekitarnya. Apakah rumah rawan terhadap banjir, rawan kebakaran atau bencana alam. “Dengan mengenal kondisi lingkungan ini, orang bisa memilih asuransi mana yang menyediakan jaminan dari risiko alam sekitar,” ungkap Khairul Fata, Kepala Pemasaran PT Asuransi Takaful Umum.
Jika potensi risiko sangat banyak, Khairul bilang, pilihlah yang paling berisiko. Dengan begitu, orang dapat menghemat ongkos pembayaran premi dan mendapatkan manfaat yang optimal.
Bila potensi risiko sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menentukan produk asuransi yang dipilih. “Ada baiknya memilih produk yang dikeluarkan oleh perusahaan yang sehat, berpengalaman dan bonafid,” ujar Khairul.
Untuk mengetahui kondisi perusahaan, Anda sejatinya bisa mengecek laporan keuangan mereka. Dengan mudah, Anda bisa memelototinya di koran yang memuat kinerja keuangan mereka. Bila tak puas, Anda bisa menanyakan langsung kepada agen penjualan.
Namun memelototi laporan keuangan yang terpampang di koran tak mudah. Sederhananya, Anda harus mengetahui angka standar kelayakan operasional (risk based capital). Perhitungan risk based capital (RBC) ini penting untuk mengukur perusahaan dari segala risiko yang mungkin terjadi dalam aktivitas operasional dan aktivitas investasi perusahaannya.
Standar minimum RBC adalah 120%. Semakin besar angkanya semakin sehat perusahaan itu.
Sehat saja tidak cukup. Perusahaan asuransi ini juga harus berpengalaman dan profesional. Untuk mengetahuinya, langkah mudah adalah bertanya kepada orang atau kenalan yang sudah menjadi nasabah perusahaan asuransi tersebut.
Misalnya soal penanganan klaim yang diajukan dan pelayanannya. Kantor asuransi harus mudah dihubungi, termasuk juga staf-stafnya terutama saat mengajukan klaim. Selain itu prosedur pengajuan klaim sebaiknya tidak berbelit-belit dan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Soal produk asuransi rumah, sebaiknya Anda jangan tergiur dengan tawaran premi yang murah. Yang harus menjadi pertimbangkan adalah manfaat yang akan didapatkan setimpal dengan premi yang dibayarkan atau tidak. Semakin besar manfaat yang didapatkan dengan premi yang rendah maka akan semakin baik.
Pilihlah produk asuransi yang menawarkan pembagian keuntungan atau no claim bonus. Metode ini memberikan manfaat pembagian kelebihan premi yang tak terpakai akibat pembayaran klaim yang kecil nilainya.
Kini produk yang menawarkan pembagian keuntungan semakin banyak. Umumnya, asuransi syariah punya pembagian keuntungan.
Sebelum polis asuransi diterbitkan, adanya baiknya Anda baca secara cermat pasal-pasal yang tercantum di dalamnya perjanjian polis.
Bila Anda sudah punya asuransi dan ketika akan memperpanjang merasa pembayaran uang premi meningkat cukup besar, Anda bisa meninjau ulang berbagai manfaat polis itu. Coba hilangkan jenis-jenis manfaat yang tidak terlalu besar risikonya. Bila Anda nasabah sejati perusahaan tersebut, jangan segan-segan meminta diskon atas preminya.

www.takaful.com

PDF Print E-mail
Written by Muhaimin Iqbal
Wednesday, 04 March 2009 22:24

StressMedical Check-Up mungkin mayoritas kita sudah biasa, apalagi kalau yang bekerja pada perusahaan besar – secara berkala wajib menjalani ini. Untuk apa ?, agar kita tahu kondisi kesehatan kita yang sesungguhnya – dan untuk dapat melakukan langkah-langkah pencegahan atau penyembuhan bila ditemukan gejala yang kurang baik pada kesehatan kita.

Lantas apa itu Financial Check-Up ?, sama dengan Medical Check-Up – hanya gunanya bukan untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh kita – tetapi untuk mengetahui kesehatan keuangan kita.

Sama dengan Medical Check-Up, Financial Check-Up ini juga perlu untuk mengetahui kondisi keuangan kita yang sesungguhnya – dan diambil tindakan-tindakan perbaikan bila ada yang kurang beres.

Untuk melakukan Medical Check-Up kita membutuhkan (team) dokter yang masing-masing memiliki kompetensi dibidangnya. Demikian halnya dengan Financial Check-Up kita juga membutuhkan bantuan dari orang yang competent dibidangnya seperti para Financial Planner, Wealth Management Specialist dlsb.

TestSehat financial tidak identik dengan kekayaan; bahkan banyak juga orang yang tergolong kaya tetapi justru tidak sehat secara financial. Sebaliknya dengan hidup yang pas-pasan pun kita bisa sehat secara financial.

Mengapa demikian ?, karena kesehatan financial bukan potret untuk sesaat, tetapi suatu proses sebab akibat yang berjalan dalam jangka panjang. Pola hidup kita sekarang berpengaruh langsung pada masa depan kita.

Ingin mencoba Financial Check-Up untuk diri Anda sendiri ?. Disamping saya kutipkan salah satu Financial Check-Up sederhana yang ditayangkan CNBC belum lama ini (di tayangan tersebut disebut Financial Stress Test). Yang Anda perlukan hanya menjawab secara jujur YA atau TIDAK lima pertanyaan dalam tes tersebut, silahkan di klik bila tampilannya kurang besar.

Bila ada dua saja dari lima pertanyaan tersebut yang secara jujur Anda jawab YA; maka Anda berpotensi memiliki masalah financial. Tidak perlu berkecil hati, justru dengan mengetahuinya sekarang Anda dapat membuat langklah-langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan langkah kita semua.